Home » » AL-MADKHAL FI USHUL AL-DU’A (Pengantar Epistimologi Du’a)

AL-MADKHAL FI USHUL AL-DU’A (Pengantar Epistimologi Du’a)

Written By RekaBaja on Sabtu, 31 Agustus 2013 | 02.13

AL-MADKHAL FI USHUL AL-DU’A
(Pengantar Epistimologi Du’a)

 

A. Pengertian Epistimologi Du’a (Ushul al-Du’a)

Arti ushul al-du’a dari segi bahasa terdiri dari dua suku kata, ushul berarti asal, sumber, pokok, induk, pusat, keturunan, dan atau nasab. Ushul bisa diartikan juga sebagai tempat kembalinya sesuatu. Ushul dalam bahasa Arab sepadan dengan  istilah epistimologi dalam Filsafat Ilmu. Epistimologi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu epistem yang berarti pengetahuan, dan logo yang berarti ilmu.  Oleh karena itu dalam filsafat, epistimologi biasa diartikan sebagai Filsafat Ilmu atau filsafat tentang ilmu pengetahuan. Secara umum Runners sebagaimana dikutif oleh  A. Tafsir mengartikan epistimologi adalah: The Branch of Philosophy Investigates the Origin, Structure, Methods and
Validity of Knowledge.  Dengan demikian secara sederhana epistimologi dapat diartikan sebagai suatu kajian tentang asal usul munculnya sesuatu. Sesuatu yang akan menjadi fokus kajian pada buku ini adalah tentang du’a.
Du’a secara lisan dan hati merupakan ucapan lisan dan getaran hati berupa permohonan serta pujian kepada Allah Swt.dengan cara-cara tertentu. Du’a secara bahasa disebutkan dalam al-Qur’an mengandung beberapa pengertian, yakni berarti:
      1.      Permintaan
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (المؤمن: 40)
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Al-Mu`min)

       2.      Permohonan
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (الأعرأف:55)
       Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf: 55)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
3.Panggilan
يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلآ قَلِيلًا (الإسراء:52)
       Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.
4. Pujian
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا(الإسرأء:11)
     Dan manusia mendo`a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo`a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. Al-Israa: 11)
Du’a secara istilah menurut al-Asqari adalah permohonan kepada Allah Swt. agar Dia mendatangkan sesuatu yang bermanfaat dan menjauhkannya dari segala bentuk kemadharatan[1]. Pendapat lain sebagaimana dijelaskan  Dr. Wahbah Juhaily dalam tafsir Al-Wajiz,  bahwa du’a secara istilah ialah:
 ألسؤل بطلب النفع ودفع الضرر وهو في ذاته عبادة
Minta kemanfaatan dan menolak kemadaratan. Dan secara esensi ia termasuk ibadah”
Du’a dari segi bentuknya merupakan pekerjaan hati, lisan dan raga dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. Du’a sebagai pekerjaan hati, maksudnya gerak dan energi berupa interaksi transendental antara makluk dan Khâlik untuk memperoleh sesuatu yang bermanfaat dan menghindari sesuatu yang madharat. Du’a ketika berupa pekerjaan lisan adalah berwujud ucapan bahasa yang isinya berupa permohonan dari makhluk kepada Khâlik
untuk mencapai sesuatu yang bermanfaat dan menghindari sesuatu yang madharat dalam rangka beribadah kepada Allah Swt. Sementara itu, du’a dari sisi aktivitas perbuatan raga adalah aktivitas hidup yang berjalan dalam hukum kausalitas immaterial sesuai dengan apa yang dilakukan qalbu dan lisan. Keterpaduan ketiga unsur itulah sebagai hakikat du’a yang murni dan konsekuen. Penjelesan seperti itu sejalan dengan firman Allah dalam Q.S.2:186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
Kalimat “Idzâ Da’ânî” merupkan syarat sekaligus isyarat, bahwa mengangkat tangan dan berucap saja tidak cukup untuk terkabulnya du’a melainkan harus di tunjang dengan bahasa perbuatan.
Dari definisi-definisi tersebut, terdapat dua makna yang terkandung dalam du’a, yakni: Pertama, agar yang bermanfaat tetap ada dan abadi melekat pada diri kita dan diusahakan supaya tidak hilang. Kedua, agar yang madharat hilang  tiada dan tidak datang terhadap kita. Dan aktivitas dalam menjaga manfaat dan mengusir madharat, pada dasarnya merupakan ibadah. Dengan demikian berdu’a  dengan sendirinya merupakan ibadah.
Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa ushul al-Du’a atau epistemologi du’a merupakan ilmu yang mengkaji tentang  bagimana asal-usul dan tata cara  memohon kepada Allah Swt dalam rangka mendatangkan serta meraih sesuatu yang bermanfaat dan menghindari segala  sesuatu yang madharat, sebagai bagian dari bentuk ibadah.

B. Kegunaan Epistimologi Du’a

Epistemologi Du’a berguna untuk mengkaji secara mendalam terhadap kebenaran sehingga mampu membedakan antara du’a yang sah dan tidak sah,  yang diharapkan dapat menciptakan suasana qolbun Salîm bagi pelaku du’a dan orang yang didu’akan (mad’u bihi) Hal itu dikarenakan cara atau metode  memiliki peranan sangat penting dalam Islam, sebab  sesuatu yang dipandang baik, tapi salah dalam melakukannya,  maka  hal itu tidak akan mendapatangkan manfaat, bahkan sebaliknya akan menjerumuskannya  pada kesesatan.
Begitu pula ilmu ini akan sangat berguna bagi siapa saja yang berdua, sebab ilmu ini akan mengarahkan seseorang agar dapat berdua dengan benar dan agar dua tersebut bisa cepat dikabulkan oleh Allah Swt.
Secara lebih rinci, kegunaan ilmu  ini adalah:
    1.      Meningkatkan kepatuhan dan wawasan diri  sendiri terutama tentang sesuatu  yang menjadi objek kajian epistimologi dua.
      2.      Dapat memberikan landasan ilmiah tentang keharusan berdua, sebagai bagian dari ibadah.
    3.      Memberikan kemampuan, solusi berbagai problem psikologis dan sosiologis kehidupan dan pengidupan mad’û oleh dua dalam proses dakwah Islam.
    4.      Memberikan kesadaran filosofis bagi kader dai tentang kehadiran dan kediriannya sebagai Abdullah, sehingga mampu memfungsikan kehambaan sesuai fungsi dan perannya.
      5.      Menghindarkan diri dari kemusyrikan dalam berduC. Objek Kajian
      1.      Objek Kajian material
Objek kajian material epistimologi dua adalah Prilaku keislaman muslim dalam melaksanakan ajaran agama Islam. Dalam hal ini, kajian epistimologi dua akan banyak berkaitan dengan ilmu-ilmu keislaman  lainnya.

           2.      Objek kajian formal
Objek kajian formal epistimologi dua ini antara lain meliputi:
           One.                 Dasar Dua
           Two.                 Sumber Dua
Three.                 Pendekatan Dua
Four.                    Metodologi Dua
Five.                      Penggunaan Dua
Six.Dasar Penggunaan Dua Sebagai Metode Dakwah
Seven.                 Problematika Dua

D. Keutamaan
Keutamaan epistimologi du’a melekat dalam keutamaan dan kewajiban berdu’a itu sendiri dan sejajar dengan keutamaan ilmu  Islam lainnya.
E. Penggagas
Secara substansial kajian epistimologi  dua, sudah tumbuh dan berjalan dalam rentangan sejarah perjuangan para Nabi dan Rasul berikut sahabat dan umatnya, dengan bukti teologis Qurani, dan banyaknya  dua yang diabadikan oleh Al-Quran.
Para penggagasnya tersebar di mana-mana, yang diawali oleh ahli Hikmah, Sufi dan Thariqat. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Syekh Aly Al-Buny dalam kitab Manbâ’ Ushul Al-Hikmah.
Sebagai salahsatu upaya melanjutkan khazanah kajian dua tersebut, di Fakultas Dakwah  IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, epistimologi dua dimasukkan sebagai bagian dari substansi Ilmu Dakwah, yaitu bagian dari ilmu tentang proses dan metode dakwah Islam mulai tahun 1999

F. Sumber
Sumber pengambilan keilmuan epistimologi dua, diambil dari:
       1.      Al-Quran
       2.      Al-Hadits
       3.      Sirah al-Anbiyâ`
       1.      Karya Ahli Sufi
       2.      Ilmu Tafsir
       3.      Ilmu Fiqih
       4.      Filsafat Islam

G.  Hukum Mempelajari
Hukum mempelajari epistimologi dua adalah melekat pada hukum berdua itu sendiri. Karena berdua hukumnya wajib, maka seluruh keilmuan termasuk epistimologi-nya yang menuju pada keabsahan dua, hukumnya adalah wajib. Hal ini mengacu pada kaidah:
الأ مر بالشيئ أمر بوسائله
 Perintah terhadap sesuatu berarti perintah (-pula) bagi hal-ihwal yang berkaitan dengan pelaksanaan sesuatu yang diperintahkan tersebut

H. Problematika
            Di antara masalah yang akan dibahas dalam ilmu ini adalah:
1.      Menjelaskan term-term dua
2.      Menjelaskan konsep yang menjadi objek kajian
3.      Membangun teori dua
4.      Memberikan landasan teoritis tentang dua
I. Metodologi
Manhaj-nya adalah Istinbâth, Iqtibâs, Istiqrâ` (proses penalaran). Metode istinbâth adalah proses penalaran dalam menjelaskan objek kajian epistimologi dua dengan menurunkan keterangan naqliyah quraniyah dan sunnah para anbiyâ`. Iqtibâs adalah proses penalaran dalam menjelaskan objek  kajian epistimologi  dua dengan meminjam teori-teori dua produk ijtihad para ulama. Istiqrâ` adalah proses penalaran dalam menjelaskan objek kajian epistimologi dua berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman empirik spiritual hamba Allah Swt.
   Posisi Epistimologi Du’a Dalam Ilmu Dakwah
Posisi epistemologi du ’a kaitannya dengan ilmu dakwah adalah:
1        Sebagai sub disiplin Ilmu Dakwah, tentunya berkaitan erat dengan Ilmu Al-Quran dan Hadits serta Akhlak
2        Sebagai metode dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah.
3        Sebagai dasar teoritik dalam pengkajian sub Ilmu Dakwah


Share this article :

Populer Artikel

Translate

 


Copyright © 2011. News - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template