ADAB
DAN PROSEDUR BERDU’A
A. Adab-adab Berdu’a
Menurut Hasbi Ash-Shiddieqie,
adab-adab berdu’a telah dijelaskan oleh Al Ghazali dalam kitabnya “Ihya ‘Ulumuddin.” Maka apabila seseorang hendak
mendu’a, memohonkan sesuatu yang
dihajatkannya kepada Allah, hendaklah ia melakukan du’a itu sebaik-baik dan
secermat-cermatnya, dengan memelihara adab-adab du’a, seperti di bawah ini.
1.
Pada waktu yang baik dan
mulia, seperti pada hari ‘Arafah, bulan Ramadlan, hari
Jum’at, sepertiga yang akhir dari malam (tsulutsu al-akhir minal
lail) dan pada waktu sahur.
2.
Dalam keadaan yang mulia,
seperti ketika bersujud dalam sembahyang, ketika berhadapan dengan musuh dalam
pertempuran, ketika hujan turun, sebelum menunaikan sembahyang dan sesudahnya,
ketika jiwa sedang tenang dan bersih dari segala gangguan syaithan dan ketika
menghadap Ka’bah.
3.
Dengan menghadap kiblat.
2.
Jangan bersajak, tetapi cukup
dengan kata-kata biasa, sederhana, sopan dan tepat mengenai sesuatu yang
dihajati. Dengan kata lain, dalam berdu`a dilakukan dengan irama-irama
tertentu, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh penggubah-penggubah du’a dalam bahasa Arab. Dan
sebaiknya memilih lafazh-lafazh du’a yang datang dari Rasulullah
SAW.
3.
Bersikap khusyu’ dan tadlarru’, yakni merasakan kebesaran dan kehebatan Allah
dalam jiwa kita yang halus.
4.
Mengokohkan kepercayaan bahwa du’a itu akan diperkenankan Allah
dan tidak merasa gelisah jika du’a itu tidak diperkenankannya.
5.
Mengulang-ulang du’a tersebut dua tiga kali,
khususnya tentang do`a yang berkaitan dengan sesuatu yang sangat diutamakan
atau diinginkan sekali.
6.
Menyebut (memuji) Allah pada
permulaannya.
7.
Bertaubat sebelum berdu’a dan menghadapkan diri dengan
sesungguhnya kepada Allah.
B. Tatacara Berdu’a
Menurut kebanyakan ulama,
apabila seseorang mendu’a, hendaklah orang tersebut
memahami do`a yang diucapakannya, baik dengan menggunakan bahasa Arab ataupun
bahasa lain yang dikuasainya. Jika tidak menguasai bahasa Arab, hendaklah ia
memuji Allah lebih dahulu, sekurang-kurangnya membaca.
الحمد الله ربّ
العالمين
“Segala puji-pujian kepunyaan Allah. Tuhan sekalian alam.”
Sesudah itu membaca shalawat kepada Nabi,
sekurang-kurangnya membaca:
وصلّى الله على محمّد
وعلى اله وصحبه وسلّم
“Wahai Tuhanku, besarkanlah olehMu akan Muhammad, akan
keluarganya dan akan para shahabatnya dan berilah kesejahteraan kepada mereka
sekalian.”
Sesudah itu barulah ia mulai berdu’an tentang apa yang
diingingkannya. Sesudah itu membaca shalawat pula kembali, misalnya
dengan redaksi shalawat sebagai berikut:
اللهم صلّ
على محمّد وعلى اله وصحبه وسلّم كما صلّيت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم وبارك علىمحمّد وعلى ال محمّد,
كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم فى العالمين إنّك حميد مجيد
“Wahai Tuhanku beri shalawatlah kiranya kepada Muhammad
dan kepada keluarganya Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat
kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Dan beri berkatlah kiranya kepada
Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkat kepada
Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, dalam seluruh alam ini, sesungguhnya
Engkau-lah yang Maha terpuji dan Maha mulia.”
Sesudah itu membaca “tahmied” (puji-pujian) kembali. Umpamanya dengan lafazh
yang paling ringkas, seperti:
والحمد الله ربّ
العالمين
“Dan segala puji-pujian, kepunyaan Allah, Tuhan seru
sekalian alam.”
Setelah itu dilanjutkan dengan mendu’a menurut keperluannya dengan du’a-du’a yang ma’tsurat.
C. Waktu-waktu untuk Berdu’a
Menurut Ibnu ‘Atha’ sebagaimana dikutif oleh Hasbi Ash-Shiddieqie,
bahwa du’a memiliki rukun, yaitu kehadiran hati bila berdu’a, serta
tunduk menghinakan diri kepada Allah. Sedangkan sayap-sayapnya yang akan
menjadikan du’a tersebut sampai di hadapan Allah Swt. adalah: berdu’a dengan sepenuh kemauan dan keikhlasan yang timbul dari
lubuk jiwa dan bertepatan dengan waktunya. Di antara waktu-waktu yang dipadang baik untuk berdu’a, adalah:
1. Ketika turun
hujan.
2. Ketika akan
memulai sembahyang dan sesudahnya.
3. Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan.
4. Ditengah malam.
5. Di antara adzan
dan iqâmat.
6. Ketika ’itidâl yang terakhir
dalam sembahyang.
7. Ketika sujud dalam
sembahyang.
8. Ketika khatam
(tamat) membaca Al Qur-an 30 Juz.
9. Sepanjang malam,
utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur.
10. Sepanjang hari Jum’at,
karena mengharap berusaha dengan saat ijâbah (saat
diperkenankan du’a) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam
matahari pada hari Jum’at itu. 1. Antara Dzhuhur dengan ‘Ashar
dan antara ‘Ashar dengan Magrib.
Waktu-waktu tersebut antara lain didasarkan pada sabda
Rasulullah Saw.:
ينزل ربّنا إلى السماء الدنياء حين بيقى ثلث اللّيل الآخر
فيقول: من يدعونى فاستجيب له. من يسألنى فاعطيه, من يستغفرني فاغفرله
“(Rahmat) Tuhan kita itu, turun ke langit dunia, ketika
malam telah tinggal sepertiga yang akhir. Maka berkatalah Tuhan: Siapa-siapa
yang mendu’a kepadaKu, maka Aku perkenankan du’anya. Siapa yang minta apapun kepadaKu, maka Aku ampuni
dia.” (H.A. Bukhary dan Muslim – Al Adzkar : 46).
إنّ فى الليل لساعة لايوافقها رجل مسلم يسأل الله خيرا من أمر
الدنيا والأخرة إلاّ اعطاها إيّاها
“Pada waktu malam, sesungguhnya ada suatu saat, dimana
jika seseorang Muslim memohon kepada Allah sesuatu kebajikan dunia dan akhirat
ketika itu, niscaya Allah mengabulkannya.” (H.R. Muslim – Al Adzkar : 47).
اطلبوا
استجابة الدعاء عند التقاء الجيوس. واقامة الصلاة ونزول المطر
“Mendoakan
disaat du’a itu diperkenankan Tuhan; yaitu di saat berjumpa
pasukan-pasukan tentara (bertempur), ketika hendak mendirikan sembahyang dan ketika turun
hujan.” (H.R. Asy Syafi’iy – Al Umm).
لا يردّ
الدعاء بين الأذان والإقامة
“Tiada ditolak sesuatu du’a yang domohonkan antara adzan dan iqamat.” (H.R. At Turmudzy).
D. Tempat-temat Berdu’a
Tempat-tempat untuk melakukan du’a supaya du’a
itu diterima, ialah:
1. Di kala melihat ka’bah.
2. Di kala melihat mesjid Rasulullah SAW.
3. Di tempat dan di kala melakukan thawaf.
4. Di sisi Multazam.
5. Di dalam ka’bah.
6. Di sisi sumur Zamzam.
7. Di belakang makam Ibrahim.
8. Di atas bukit Shafa dan Marwah.
9. Di ‘Arafah, di
Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga.
10. Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Mesjid
dan tempat-tempat peribadatan Islam lainnya.
Allah Swt. berfirman: قل أمر ربّي بالقسط, وأقيموا وجوهكم عند كلّ مسجد وادعوه
مخلصين له الدين كما بدأكم تعودون (الأعراف: 29)
“Katakanlah (hai Muhammad): Telah memerintahkan TuhanKu
supaya berlaku ‘adil dan
dirikanlah olehmu akan sembahyang di tiap-tiap mesjid dan mendu’alah kamu kepadaNya dengan mengikhlaskan ta’at kepadaNya. Sebagaimana Tuhan telah menjanjikan kamu
pada permulaan, begitu pulalah kamu akan kembali.” (Q.S. 7:29)
5th.
Hukum Mengangkat
Tangan dan Menyapu
Muka
Al Imam Ibnu Taimiyah telah menegaskan, bahwa
banyak
sekali hadits yang menerangkan bahwa Nabi Saw. mengangkat kedua belah tangannya
ketika berdu’a.
Tersebut dalam Sunan Abû
Dawud, bahwa apabila kita mendu’a hendaklah kita
mengangkat kedua belah tangan kita setengah keduanya dengan kedua belah pundak
kita, apabila kita ber-istigfar hendaklah selalu mengisyaratkan dengan
telunjuk, sedang apabila kita meminta dengan sungguh-sungguh sekali, maka
hendaklah kedua belah tangan kita diulurkan ke muka sambil mengangkatnya. Akan tetapi, tentang menyapu muka sesudah selesai berdu’a, menurut Imam Nawawi tidak memiliki landasan dalil yang
kuat. Dengan kata lain, tidak ada keterangan
valid yang menyatakan bahwa mengusap muka setelah berdu’a hukumnya sunnat.
F.
Du’a untuk Orang Jauh dan
yang Berbuat Baik
Agama sangat menyukai supaya kita mendu’a untuk seseorang yang jauh dari kita.
Rasulullah Saw. bersabda:
دعوة
المسلم لأخيه بظهر الغيب مستجابة (رواه مسلم)
“Du’a seseorang Muslim
(untuk kemaslahatan) saudaranya (Muslim) yang jauh daripadanya adalah mustajab (HR. Muslim).
عند
رأسه ملك موكل كلّما دعاءلأخيه بخير قال الموكّل: آمين ولك بمثلهم (رواه مسلم)
“Di sisi orang yang berdu’a itu tendapat Malaikat, dimana tiap orang itu mendu’akan kemashlahatan untuk saudaranya yang Muslim, maka
malaikat itu ikut mengatakan Amin, memohon semoga du’a itu diperkenankan dan untuk Engkau yang sepertinya.” (H.R. Muslim).
Begitu pula dianjurkan untuk berdu’a
bagi orang-orang yang telah berbuat baik, sebagaimana dinyatakan dalam hadits
Rasulullah Saw.
من صنع
إليه معروف فقال لفاعله, جزاك الله خيرا فقد أبلغ فى الثناء
“Barangsiapa diberikan orang kepadanya sesuatu kebajikan
lalu ia mendu’akan untuk orang
itu dengan menyebut; jazaka ‘Llahu khairan (mudah-mudahan Allah membalasi engkau
dengan kebajikan yang lebih baik), maka sesungguhnya orang telah memenuhi hak
sanjungan.” (H.R. At Turmudzy).
من صنع
إليكم معروفا فكافئوه فإن لم تجدوا ماتكافئونه فادعواله حتّى تروا انّكم قد
كافأتموهه
“Dan barangsiapa membuat kebajikan (ma’ruf) kepadamu, maka balaslah kabajikan itu jika engkau
tidak sanggup membalasnya, maka mendu’alah kamu untuknya sehingga terasa olehmu bahwa kamu
telah membalas kebajikan orang dengan sesempurnanya.” (H.R. Bukhary).
استأذنت النبي صلّى الله عليه وسلم فى العمرة فأذن وقال. لا
تنسنا ياأخي من دعائك فقال: كلمة مايسرّني أنّ لي بها
“Berkata Umaar
Ibnu’l Khaththab R.A. : “Pada
syatu ketika aku meminta idzin kepada Nabi SAW. untuk pergi “Umrah.
Nabi memperkenankan permintaanku seraya berkata: jangan engkau melupakan kami
dalam du’a-du’amu, wahai saudaraku, “Jawab Umar:” Ucapan Nabi itu lebih menyenangkan permintaan diriku
dari itu.” (H.R. At Turmudzy, Nuzul Abrar: 233).
7th.
Du’a Yang Dilarang dan Orang-orang yang
Ditolak Du’anya
Agama melarang seseorang yang berdu’a agar dirinya dicelakakan oleh Allah Swt., atau
dibinasakan, baik mengenai hartanya maupun mengenai hak milik lainnya.
Rasulullah Saw. bersabda:
لاتدعوا على أنفسكم
ولاتدعوا على أولادكم ولاتدعوا على خدمكم ولا تدعوا على أموالكم لاتوافقوا من الله
تعالى ساعة نيل فيها عطاء فيستجاب منكم
“Sekali-kali janganlah kamu meminta supaya dirimu dicelakakan,
begitu pula anak-anakmu, pelayanmu dan harta-bendamu. Mungkin
permintaan-permintaan itu bertepatan dengan saat-saat ijabah, dimana ia
langsung diperkenankan Allah.” (H.R. Abu Daud).
Namun demikian, agama membolehkan kita mendu’a, memohonkan kecelakaan untuk orang yang zhalim, agar
dengan kecelakaan itu terlepaslah para manusia dari kezhalimannya. Sedangkan di antara orang-orang yang tidak ditolak du’anya antara lain sebagaimana diberitakan oleh At Turmudzy
dari Abu Hurairah, bahwas Nabi Saw. bersabda: “Ada
tiga orang yang sekali-kali tidak akan ditolak du’anya
oleh Allah. Pertama, orang yang sedang berpuasa sehingga ia bebuka; Kedua,
kepala negara yang adil; Dan ketiga, orang yang teraniaya.
H.
Cara Allah swt. Mengabulkan Du’a
Du’a itu kadang-kadang
dikabulkan oleh Allah dengan memberikan apa yang kita mohonkan kepada-Nya,
kadang-kadang dengan menolak suatu bencana lain yang bakal tertimpa kepada
kita.
Rasulullah Sawt.. bersabda:
ماعلى وجه الأرض مسلم
يدعواالله تعالى بدعوة إلاّ اتاه الله إيّاه أو صرف عنه السوء مثلها مالم يدع بإثم
أو قطيعة رحيم فقال رجل, إذن نكثر فقال, الله اكبر
“Tidak ada seseorang Muslim dimuka bumi ini yang mendu’a memohonkan sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mengabulkannya
sebagaimana yang dimohonkannya, atau dipalingkan Allah daripadanya sesuatu kecelakaan selama
ia tidak mendu’akan sesuatu yang
mengandung dosa atau memutuskan silaturahmi. Maka berkata seseorang: kalau
begitu baiklah kami memperbanyak du’a. jawab Nabi: Allah menerima du’a hambaNya lebih banyak lagi.” (H.R. At
Turmudzy).
