Home » » ADAB DAN PROSEDUR BERDU’A

ADAB DAN PROSEDUR BERDU’A

Written By RekaBaja on Sabtu, 31 Agustus 2013 | 02.39

ADAB DAN PROSEDUR BERDUA


A. Adab-adab Berdua
Menurut Hasbi Ash-Shiddieqie, adab-adab berdua telah dijelaskan oleh Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin. Maka apabila seseorang hendak mendua,  memohonkan sesuatu yang dihajatkannya kepada Allah, hendaklah ia melakukan dua itu sebaik-baik dan secermat-cermatnya, dengan memelihara adab-adab dua, seperti di bawah ini.
1.         Pada waktu yang baik dan mulia, seperti pada hari Arafah, bulan Ramadlan, hari Jumat, sepertiga yang akhir dari malam (tsulutsu al-akhir minal lail) dan pada waktu sahur.
2.         Dalam keadaan yang mulia, seperti ketika bersujud dalam sembahyang, ketika berhadapan dengan musuh dalam pertempuran, ketika hujan turun, sebelum menunaikan sembahyang dan sesudahnya, ketika jiwa sedang tenang dan bersih dari segala gangguan syaithan dan ketika menghadap Kabah.

3.         Dengan menghadap kiblat. 
1.        Merendahkan suara
2.         Jangan bersajak, tetapi cukup dengan kata-kata biasa, sederhana, sopan dan tepat mengenai sesuatu yang dihajati. Dengan kata lain, dalam berdu`a dilakukan dengan irama-irama tertentu, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh penggubah-penggubah dua dalam bahasa Arab. Dan sebaiknya memilih lafazh-lafazh dua yang datang dari Rasulullah SAW.
3.         Bersikap khusyu dan tadlarru,  yakni merasakan kebesaran dan kehebatan Allah dalam jiwa kita yang halus.
4.         Mengokohkan kepercayaan bahwa dua itu akan diperkenankan Allah dan tidak merasa gelisah jika dua itu tidak diperkenankannya.
5.         Mengulang-ulang dua tersebut dua tiga kali, khususnya tentang do`a yang berkaitan dengan sesuatu yang sangat diutamakan atau diinginkan sekali.
6.         Menyebut (memuji) Allah pada permulaannya.
7.         Bertaubat sebelum berdua dan menghadapkan diri dengan sesungguhnya kepada Allah.
B. Tatacara Berdua
Menurut kebanyakan ulama, apabila seseorang mendua, hendaklah orang tersebut memahami do`a yang diucapakannya, baik dengan menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dikuasainya. Jika tidak menguasai bahasa Arab, hendaklah ia memuji Allah lebih dahulu, sekurang-kurangnya membaca.
الحمد الله ربّ العالمين
Segala puji-pujian kepunyaan Allah. Tuhan sekalian alam.
Sesudah itu membaca shalawat kepada Nabi, sekurang-kurangnya membaca:
وصلّى الله على محمّد وعلى اله وصحبه وسلّم
 Wahai Tuhanku, besarkanlah olehMu akan Muhammad, akan keluarganya dan akan para shahabatnya dan berilah kesejahteraan kepada mereka sekalian.
Sesudah itu barulah ia mulai berduan tentang apa yang  diingingkannya. Sesudah itu membaca shalawat pula kembali, misalnya dengan redaksi  shalawat sebagai berikut:

اللهم صلّ على محمّد وعلى اله وصحبه وسلّم كما صلّيت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم وبارك علىمحمّد وعلى ال محمّد, كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم فى العالمين إنّك حميد مجيد
 Wahai Tuhanku beri shalawatlah kiranya kepada Muhammad dan kepada keluarganya Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Dan beri berkatlah kiranya kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, dalam seluruh alam ini, sesungguhnya Engkau-lah yang Maha terpuji dan Maha mulia.
Sesudah itu membaca tahmied (puji-pujian) kembali. Umpamanya dengan lafazh yang paling ringkas, seperti:
والحمد الله ربّ العالمين
Dan segala puji-pujian, kepunyaan Allah, Tuhan seru sekalian alam.
            Setelah itu dilanjutkan dengan mendua menurut keperluannya dengan dua-dua yang matsurat.

C. Waktu-waktu untuk Berdua
Menurut Ibnu Atha sebagaimana dikutif oleh Hasbi Ash-Shiddieqie, bahwa dua memiliki rukun, yaitu kehadiran hati bila berdua, serta tunduk menghinakan diri kepada Allah. Sedangkan sayap-sayapnya yang akan menjadikan dua tersebut sampai di hadapan Allah Swt. adalah: berdua dengan sepenuh kemauan dan keikhlasan yang timbul dari lubuk jiwa dan bertepatan dengan waktunya. Di antara waktu-waktu  yang dipadang baik untuk berdua, adalah:
1.       Ketika turun hujan.
2.       Ketika akan memulai sembahyang dan sesudahnya.
3.      Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan.
4.       Ditengah malam.
5.       Di antara adzan dan iqâmat.
6.       Ketika itidâl yang terakhir dalam sembahyang.
7.       Ketika sujud dalam sembahyang.
8.       Ketika khatam (tamat) membaca Al Qur-an 30 Juz.
9.       Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur.
10.   Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berusaha dengan saat ijâbah (saat diperkenankan dua) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu. 1.      Antara Dzhuhur dengan Ashar dan antara Ashar dengan Magrib.
Waktu-waktu tersebut antara lain didasarkan pada sabda Rasulullah Saw.:
ينزل ربّنا إلى السماء الدنياء حين بيقى ثلث اللّيل الآخر فيقول: من يدعونى فاستجيب له. من يسألنى فاعطيه, من يستغفرني فاغفرله
(Rahmat) Tuhan kita itu, turun ke langit dunia, ketika malam telah tinggal sepertiga yang akhir. Maka berkatalah Tuhan: Siapa-siapa yang mendua kepadaKu, maka Aku perkenankan duanya. Siapa yang minta apapun kepadaKu, maka Aku ampuni dia. (H.A. Bukhary dan Muslim Al Adzkar : 46).
إنّ فى الليل لساعة لايوافقها رجل مسلم يسأل الله خيرا من أمر الدنيا والأخرة إلاّ اعطاها إيّاها
Pada waktu malam, sesungguhnya ada suatu saat, dimana jika seseorang Muslim memohon kepada Allah sesuatu kebajikan dunia dan akhirat ketika itu, niscaya Allah mengabulkannya. (H.R. Muslim Al Adzkar : 47).

اطلبوا استجابة الدعاء عند التقاء الجيوس. واقامة الصلاة ونزول المطر

Mendoakan disaat dua itu diperkenankan Tuhan; yaitu di saat berjumpa pasukan-pasukan tentara (bertempur), ketika hendak mendirikan sembahyang dan ketika turun hujan. (H.R. Asy Syafiiy Al Umm).
لا يردّ الدعاء بين الأذان والإقامة
Tiada ditolak sesuatu dua yang domohonkan antara adzan dan iqamat. (H.R. At Turmudzy).

D. Tempat-temat Berdua
Tempat-tempat untuk melakukan dua supaya dua itu diterima, ialah:
1.      Di kala melihat kabah.
2.      Di kala melihat mesjid Rasulullah SAW.
3.      Di tempat dan di kala melakukan thawaf.
4.      Di sisi Multazam.
5.      Di dalam kabah.
6.      Di sisi sumur Zamzam.
7.      Di belakang makam Ibrahim.
8.      Di atas bukit Shafa dan Marwah.
9.      Di Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga.
10.  Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Mesjid dan tempat-tempat peribadatan Islam lainnya.
Allah Swt. berfirman: قل أمر ربّي بالقسط, وأقيموا وجوهكم عند كلّ مسجد وادعوه مخلصين له الدين كما بدأكم تعودون (الأعراف: 29)
 Katakanlah (hai Muhammad): Telah memerintahkan TuhanKu supaya berlaku adil dan dirikanlah olehmu akan sembahyang di tiap-tiap mesjid dan mendualah kamu kepadaNya dengan mengikhlaskan taat kepadaNya. Sebagaimana Tuhan telah menjanjikan kamu pada permulaan, begitu pulalah kamu akan kembali. (Q.S. 7:29)

5th.           Hukum Mengangkat Tangan dan Menyapu 
     Muka
Al  Imam  Ibnu Taimiyah telah menegaskan, bahwa
banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa Nabi Saw. mengangkat kedua belah tangannya ketika berdua.
Tersebut dalam Sunan Abû Dawud, bahwa apabila kita mendua hendaklah kita mengangkat kedua belah tangan kita setengah keduanya dengan kedua belah pundak kita, apabila kita ber-istigfar hendaklah selalu mengisyaratkan dengan telunjuk, sedang apabila kita meminta dengan sungguh-sungguh sekali, maka hendaklah kedua belah tangan kita diulurkan ke muka sambil mengangkatnya. Akan tetapi, tentang menyapu muka sesudah selesai berdua, menurut Imam Nawawi tidak memiliki landasan dalil yang kuat. Dengan kata lain, tidak ada keterangan  valid yang menyatakan bahwa mengusap muka setelah berdua hukumnya sunnat.

F. Dua untuk Orang Jauh dan  yang Berbuat Baik
Agama sangat menyukai supaya kita mendua untuk seseorang yang jauh dari kita.
Rasulullah Saw. bersabda:

دعوة المسلم لأخيه بظهر الغيب مستجابة (رواه مسلم)

Dua seseorang Muslim (untuk kemaslahatan) saudaranya (Muslim) yang jauh daripadanya adalah mustajab  (HR. Muslim).

عند رأسه ملك موكل كلّما دعاءلأخيه بخير قال الموكّل: آمين ولك بمثلهم (رواه مسلم)

Di sisi orang yang berdua itu tendapat Malaikat, dimana tiap orang itu menduakan kemashlahatan untuk saudaranya yang Muslim, maka malaikat itu ikut mengatakan Amin, memohon semoga dua itu diperkenankan dan untuk Engkau yang sepertinya. (H.R. Muslim).
Begitu pula dianjurkan untuk  berdua bagi orang-orang yang telah berbuat baik, sebagaimana dinyatakan dalam hadits Rasulullah Saw.

من صنع إليه معروف فقال لفاعله, جزاك الله خيرا فقد أبلغ فى الثناء

Barangsiapa diberikan orang kepadanya sesuatu kebajikan lalu ia menduakan untuk orang itu dengan menyebut; jazaka Llahu khairan (mudah-mudahan Allah membalasi engkau dengan kebajikan yang lebih baik), maka sesungguhnya orang telah memenuhi hak sanjungan. (H.R. At Turmudzy).
من صنع إليكم معروفا فكافئوه فإن لم تجدوا ماتكافئونه فادعواله حتّى تروا انّكم قد كافأتموهه
Dan barangsiapa membuat kebajikan (maruf) kepadamu, maka balaslah kabajikan itu jika engkau tidak sanggup membalasnya, maka mendualah kamu untuknya sehingga terasa olehmu bahwa kamu telah membalas kebajikan orang dengan sesempurnanya. (H.R. Bukhary).
استأذنت النبي صلّى الله عليه وسلم فى العمرة فأذن وقال. لا تنسنا ياأخي من دعائك فقال: كلمة مايسرّني أنّ لي بها
Berkata Umaar Ibnul Khaththab R.A. : Pada syatu ketika aku meminta idzin kepada Nabi SAW. untuk pergi Umrah. Nabi memperkenankan permintaanku seraya berkata: jangan engkau melupakan kami dalam dua-duamu, wahai saudaraku, Jawab Umar: Ucapan Nabi itu lebih menyenangkan permintaan diriku dari itu. (H.R. At Turmudzy, Nuzul Abrar: 233).

7th.           Dua Yang Dilarang dan Orang-orang yang
     Ditolak Duanya
Agama melarang seseorang yang berdua agar dirinya dicelakakan oleh Allah Swt., atau dibinasakan, baik mengenai hartanya maupun mengenai hak milik lainnya. Rasulullah Saw. bersabda:
لاتدعوا على أنفسكم ولاتدعوا على أولادكم ولاتدعوا على خدمكم ولا تدعوا على أموالكم لاتوافقوا من الله تعالى ساعة نيل فيها عطاء فيستجاب منكم
 Sekali-kali janganlah kamu meminta supaya dirimu dicelakakan, begitu pula anak-anakmu, pelayanmu dan harta-bendamu. Mungkin permintaan-permintaan itu bertepatan dengan saat-saat ijabah, dimana ia langsung diperkenankan Allah. (H.R. Abu Daud).
Namun demikian, agama membolehkan kita mendua, memohonkan kecelakaan untuk orang yang zhalim, agar dengan kecelakaan itu terlepaslah para manusia dari kezhalimannya. Sedangkan di antara orang-orang yang tidak ditolak duanya antara lain sebagaimana diberitakan oleh At Turmudzy dari Abu Hurairah, bahwas Nabi Saw. bersabda: Ada tiga orang yang sekali-kali tidak akan ditolak duanya oleh Allah. Pertama, orang yang sedang berpuasa sehingga ia bebuka; Kedua, kepala negara yang adil; Dan ketiga, orang yang teraniaya.
H. Cara Allah swt. Mengabulkan Dua
Dua itu kadang-kadang dikabulkan oleh Allah dengan memberikan apa yang kita mohonkan kepada-Nya, kadang-kadang dengan menolak suatu bencana lain yang bakal tertimpa kepada kita.
Rasulullah Sawt.. bersabda:
ماعلى وجه الأرض مسلم يدعواالله تعالى بدعوة إلاّ اتاه الله إيّاه أو صرف عنه السوء مثلها مالم يدع بإثم أو قطيعة رحيم فقال رجل, إذن نكثر فقال, الله اكبر
Tidak ada seseorang Muslim dimuka bumi ini yang mendua memohonkan sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mengabulkannya sebagaimana yang dimohonkannya, atau dipalingkan  Allah daripadanya sesuatu kecelakaan selama ia tidak menduakan sesuatu yang mengandung dosa atau memutuskan silaturahmi. Maka berkata seseorang: kalau begitu baiklah kami memperbanyak dua. jawab Nabi: Allah menerima dua hambaNya lebih banyak lagi. (H.R. At Turmudzy).   
Share this article :

Populer Artikel

Translate

 


Copyright © 2011. News - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template