Home » » DASAR DAN SUMBER DU’A

DASAR DAN SUMBER DU’A

Written By RekaBaja on Sabtu, 31 Agustus 2013 | 02.32

DASAR DAN SUMBER DU’A

 

A. Dasar Hukum Berdu’a

1. Dalil dari al-Qur`an
One.        Firman Allah Swt., dalam surat al-A’râf: 55-56
ادعوا ربّكم تضرّعا وخفية إنّه لايحبّ المعتدين. ولا تفسدوا فى الأرض بعد اصلاحها وادعوه خوفا وطمعا. إنّ رحمت الله قريب من المحسنين (الاعراف: 55-57)
Mohonlah (berdoalah) kamu kepada tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan suara halus. Sesungguhnya Allah tiada menyukai orang-orang yang melampaui batas; Dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi (masyarakat) setelah ia baik; dan mohonlah (mendoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan tamak (sangat mengharapkan); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang yang ihsan (iman kepada Allah dan berbuat kebajikan).  (Q.S. 7: 55)
b. Firman Allah Swt. dalam surat al-Baqarah: 186.
واذا سألك عبادى عنّى فإنّى قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوالى وليؤمنوابي لعلّهم يرشدون (البقرة:186)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka sesungguhnya Aku sangat dekat (kepada mereka), Aku perkenankan doa-doa orang-orang yang mendoa apabila ia memohon (mendo`a) kepada-Ku. Oleh karena itu, maka hendaklah mereka memenuhi (seruan) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk. (Q.S.2:186)
c.  Firman Allah Swt. dalam Surat al-Mu`min: 60
وقال ربّكم ادعونى استجب لكم (المومن: 60)
Dan Tuhan kalian berfirman: Memohonlah (mendoalah) kepadaku, maka akan aku perkenankan permohonan (doa) mu itu. (Q.S.  40: 60)
d.  Firman Allah Swt. dalam Surat al-Araf: 180
ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها (الأعراف: 180)
Dan Allah mempunyai nama-nama yang sangat indah (Al Asmaul Husna), maka mohonlah kamu kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama itu. (Q.S. 7:180)

e. Firman Allah Swt. dalam Surat al-Mumin: 65

هو الحيّ لاإله إلاّ هو فادعوه مخلصين له الدّين الحمد لله ربّ العالمين (المؤمن: 65)

Tuhan adalah Dzat Yang hidup, tiada Tuhan melainkan Dia, maka mendoalah kepada-Nya. Segala puji itu kepunyaan Allah, Tuhan yang memelihara seluruh alam. (Q.S, 40:65)

2. Sunnah

Di antara sabda Rasulullah Saw. yang bisa dijadikan sebagai landasan berdua adalah hadits-hadits Rasulullah. berikut:

الدعاء هو العبادة (رواه الترمذي)

Doa itu ibadat. (H.R. At Turmudzy).
من فتح له باب الدعاء فتحت له أبواب الرحمة. وما سئل الله تعالى شيئا أحبّ إليه من أن يسأل العافية, وإنّ الدعاء ينفع ممّا نزل وممّا لم ينزل ولا يردّ  القضاء إلاّ الدعاء (رواه الترمذي) 
Barang siapa dibukakan pintu dua untuknya, berarti telah dibukakan pula baginya berbagai pintu rahmat. Dan tiada dimohonkan kepada Allah, yang lebih disukai-Nya selain dari pada dimohonkan afiyah. Dua itu memberikan manfaat terhadap apa yang telah diturunkan dan yang belum diturunkan. Dan tak ada yang dapat menangkis ketetapan Tuhan, kecuali dua. Oleh sebab itu, hendaklah kamu sekalian berdua. (H.R. At Turmudzy)
ما على الأرض مسلم يدعو الله تعالى بدعوة إلاّ اتاه إياه أو صرف عنه من السوء مثلها مالم يدع ياثم أو قطيعة رحم (رواه الترمذي)
Tiap Muslim di muka bumu yang memohon suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah, atau dijauhkan Allah dari padanya suatu kejahatan, selama ia mendoakan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang. (H.R. At Turmuzy)

Apabila ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi Saw. yang telah disebutkan di atas diperhatikan dengan seksama dan dengan segala keinsafan maka nyatalah bagi kita, bahwa berdua merupakan salah satu perintah Allah Swt. kepada para hamba-Nya. Dengan demikian, jelas sekali bahwa dua adalah ibadat.

M. Quraish Shihab, ketika  menafsirkan dua ayat berikut:
قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا
Katakanlah, “Tuhanku tidak menghiraukan kamu seandainya tidak ada doamu” (Q.S. Al-Furqan [25]: 77).
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang angkuh beribadah kepada-ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (QS Al-Mu’Mu’min [40]:60).
Berpendapat bahwa yang dimaksud “beribadah” dalam ayat di atas adalah berdu’a. Di sisi lain, terdapat pula firman-Nya dalam QS Al-A’raf (7): 29, berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Kata “berdu’alah” di sini bermakna “beribadahlah kepada-Nya”. Demikian ibadah dan doa, dua kata yang berbeda, tetapi yang satu sering digunakan untuk makna yang lain. Itu wajar, karena doa adalah mukhkh al-‘ibadah, yakni saripati ibadah, demikian sabda Nabi Saw. sebagai diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi.
Lebih lanjut menurut M. Quraish Shihab bahwa wujud Tuhan yang mutlak dan dirasakan oleh jiwa manusia serta keyakinan akan adanya hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya, tidak boleh mengantar manusia untuk mengabaikan doa. Sebab, keberlakuan hukum-hukum itu tidak mengakibatkan terbebasnya Tuhan dari perbuatan dan kebijaksanaan-Nya. Apakah Anda menduga bahwa Allah seperti pabrik yang memproduksi “jam” kemudian membiarkan berjalan secara otomatis di tangan Anda? Jangan, jangan menduga demikian! Ada sunnatullah (hukum-hukum Allah yang mengatur alam raya) dan ada juga ‘inayatullah (pertolongan-Nya yang tidak kalah dari Sunnah-Nya. Inayah-Nya itu ditunjukannya kepada mereka yang benar-benar berdoa kepada-Nya.
Selain itu, manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan mengharap. Dia selalu membutuhkan sandaran, lebih-lebih pada saat cemas dan harapan itu menimpa dirinya. Kenyataan sehari-hari membuktikan bahwa, bersandar kepada makhluk–betapapun kuat dan kuasanya dia–sering kali tidak membuahkan hasil. yang mampu memberi hasil hanyalah Tuhan semata. Allah Swt. berfirman, yang kamu seru selain Allah tidak memiliki apa-apa walau setipis kulit ari sekalipun, jika kamu meminta kepada mereka, mereka tidak mendengar permintaanmu dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan (QS Fathir [35]: 13-14).
Orang yang berdu’a hendaknya yakin bahwa Allah Swt. dekat dan memperkenankan permohonan hamba-hamba-Nya yang tulus, sebagaimana firman-Nya, “Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Hai Muhammad) tentang aku, (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku perkenanka du’a orang yang berdu’a apabila dia berdu’a”. Maka, hendaklah dia memperkenankan (panggilan)-Ku dan percaya kepada-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 186). Kalimat “Jawablah” tidak terdapat dalam teks ayat di atas. Kata tersebut saya cantumkan dalam terjemahan hanya untuk memudahkan pengertian kita. Tidak disebutkannya kalimat tersebut dalam ayat di atas, walaupun Rasul Saw. diperintahkan untuk menjawab pertanyaan mereka, mengandung banyak makna, kalimat ini sengaja ditiadakan oleh Tuhan-tidak seperti jawaban-jawaban-Nya atas pertanyaan-pertanyaan lain yang selalu dibarengi dengan kata “qul” (Jawablah). Ulama Al-Quran mengatakan bahwa ditiadakannya (kalimat) “jawablah” di sini untuk mengisyaratkan bahwa Anda dapat langsung berdoa kepada-Nya, tanpa perantara.
Kalimat “orang yang berdoa apabila dia berdoa” menunjukkan bahwa boleh jadi ada orang yang bermohonan kepada-Nya, tetapi belum lagi dinilai-Nya berdoa. Ayat di atas juga mengisyaratkan bahwa yang pertama dan utama dituntut dari setiap orang yang berdoa adalah, “memperkenankan panggilan Allah (melaksanakan ajaran agama)”. Karena itu pula, ada sebuah hadis Nabi Saw. yang menguraikan keadaan seseorang yang menengadah ke langit sambil berseru, “Tuhanku, Tuhanku! (perkenankan doaku)’, tetapi makanan yang dimakannya haram, pakaian yang dikenakannya haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” Selanjutnya, ayat di atas memerintahkan agar orang yang berdoa niscaya percaya kepada-Nya. Ini bukan saja dalam arti mengakui keesaan-Nya, tetapi juga percaya bahwa Dia akan memilihkan yang terbaik untuk si pemohon. Dia tidak akan menyia-nyiakan doa itu. Akan tetapi, boleh jadi Allah Swt. memperlakukan si pemohon seperti seorang ayah kepada anaknya; sesekali memberi sesuai permintaannya, di kali lain diberikannya sesuatu yang lain dan lebih baik dari yang diminatinya. Tidak jarang pula Allah Swt. menolak permintaannya, tetapi memberikannya sesuatu yang lebih baik di masa mendatang, kalau tidak di dunia, maka di akhirat. Demikian Al-Qur’an menegaskan. Karena itu pula, Rasul Saw. bersabda, “Berdoalah kepada Allah disertai dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memperkenankan (doamu).”
Inna Rabbi qaribun mujib (Sesungguhnya Tuhanku amat dekat, dan memperkenankan [doa hamba-hamba-Nya]), demikian ucap Nabi Shaleh as. yang dibenarkan dan diabadikan Allah Swt. dalam (QS Hud [11]: 61). Karena itu, kita tidak perlu berteriak mengeraskan suara ketika berdoa. Berdu’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS Al-A’raf [7]: 55). Tidak mustahil termasuk dalam pengertian “melampaui batas kewajaran” adalah berkeras-keras dalam berzikir dan berdoa sehingga mengganggu orang lain yang masih ditoleransi Allah Swt. untuk tidur beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Bukankah ada orang yang karena berbagai sebab yang dibenarkan agama, baru tidur setelah larut malam, atau karena kesulitan akibat penyakit yang dideritanya? Dan berzikirlah/sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS Al-A’raf [7] :205).
Dalam surah yang sama Allah mengingatkan dan memperingatkan bahwa Dia adalah Ni’ma al-mûjibun (sebaik-baik yang memperkenankan) (QS Al-Shaffat [37]: 75).
Sebagai Al-Mujib, Allah Swt. adalah Dia yang menanggapai permohonan hamba yang membutuhkan bantuan-Nya, menerima doa hamba yang berdu’a dengan memperkenankan-Nya, dan memenuhi desakan orang yang terdesak dengan memberi kecupan dari sisi-Nya. Bahkan, Dia menganugerahkan sesuatu sebelum hamba yang mengharapkannya bermohon. Dan, jangan lupa, bahwa Allah Swt. marah jika hamba-Nya enggan berdoa. Perhatikanlah ayat yang dicantumkan pada awal uraian ini dan camkan juga firman-Nya, Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka sebagai indah apa yang selalu mereka kerjakan (QS Al-An’am [6] : 43).
Permohonan adalah permintaan yang ditujukan oleh orang yang sadar (berakal). Permohonan muncul karena kesadaran akan adanya kebutuhan sehingga apa yang dibutuhkan itu disampaikan kepada siapa yang diharapkan dapat memenuhinya. Cara untuk menyampaikannya dapat berbentuk ucapan, isyarat, dan lain-lain, bahkan keadaan yang kita alami pun dapat menunjukkan kebutuhan dan menjadi permohonan.
Sifat Allah Swt. sebagai Al-Mujib berfungsi saat permohonan diajukan kepada Allah, atau ketika lahir kebutuhan makhluk-Nya. Ketulusan, prasangka-baik kepada Allah, percaya penuh kepada-Nya, dan keyakinan akan kebenaran janji-janji-Nya, adalah kunci yang tulus, setan meraih perkenan-Nya. Jangkankan seorang Mukmin yang tulus, setan pun dikabulkan Tuhan doanya ketika ia bermohon untuk dipanjangkan usianya hingga Hari Kebangkitan (baca QS Al-A’raf [7]: 14-15). Memang, pengabulan du’a tidak selalu harus dikaitkan dengan keimanan. “Hati-hatilah terhadap du’a orang yang teraninya, walau dia kafir, karena tidak ada pembatas  antara dia (du’anya) dengan Allah,” demikian sabda Nabi Saw. Hanya, harus disadari bahwa pengabulan tersebut berkaitan dengan kemaslahatan si permohonan. Karena itu, pengabulan doa dapat terjadi dengan segera dan sesuai dengan yang dimohonkan, dan dapat juga ditunda atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik bagi si pemohon.

B. Macam-Macam Sumber Du’a

Sumber  Du’a di dalam Agama Islam adalah:
1.      Du’a yang bersumber dari al-Qur’an.
Du’a yang bersumber dari al-Qur’an baik berupa du’a yang pernah diungkapkan oleh para nabi ataupun redaksinya langsung dari al-Qur’an.
a. Du’a dalam al-Qur’an yang redaksinya langsung diajarkan oleh Allah.    Di antaranya adalah du’a untuk mendu’akan kedua orang tua:

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا   (الإسراء: 24) 

    

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al-Isrâ: 24)

b. Du’a Para Nabi yang diberitakan kembali dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah du’a minta ampun nabi Adam:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (الأعراف: 23)
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi". (QS. Al-A’raf: 23)
c. Melaksanakan Perintah Berdu’a Secara Eksplisit dalam bentuk perintah     kemudian diredaksikan dalam bentuk du’a oleh penerima perintah du’a.
   Contoh redaksi perintah Allah dalam al-Qur’an:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم (الم\نحل: 98)
Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. Al-Nahl: 98) 
Melaksanakan perintah berdu’a dengan al-Asmâ               al-Husna
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا (الأعراف: 180)
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu (Qs. Al-A’raf: 18))

1.      Du’a yang bersumber dari pewarisan para nabi sepanjang zaman yang sudah menyebar dan sudah menjadi ‘urf Sharfain.
           Di antaranya du’a yang bersumber dari pewarisan nabi Muhammad Saw., artinya semua redaksi du’anya telah dicontohkan oleh  nabi Muhammad sendiri, dan  contoh-contoh du’a ini secara lengkap sudah dikodifikasi secara pertama kalinya oleh Ibnu Sunni dalam karya monumentalnya “Amal al-Yaum wa al-Lailah”, yang memuat du’a-du’a nabi Muhammad mulai tidur sampai tidur lagi (siang malam). Pengkodifikasi lain adalah Imam Nawawi dalam kitab “al-Adzkar”. Di antara contoh yang populer adalah bacaan tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan
hamdalallah. Kelima kalimat du’a tersebut disebut afdhal al-kalâm.
1.      Du’a yang bersumber dari hasil ijtihad yang substansinya diturunkakn dari rujukan al-Qur’an al-Sunnah Nabwiyah.
   Substansi du’a diturunkan dari semangat al-Qur’an dan atau semua tels-teks du’anya diturunkan dari semangat al-Hadits/al-Sunnah berdasarkan ilham. Wujud teksnya biasanya berupa shalawat dan du’a-du’a memohon keselamatan dan terhindar dari kemadharatan.
2.      Du’a yang bersumber dari ilham melalui kalangan muqarrabîn (hamba-hamba Allah yang dekat dengan-Nya) atau para ahli Sufi yang dikenal dengan istilah metode al-barzakhi.
Du’a yang bersumber dari ta’lim antara ruh  dengan ruh para nabi melalui ta’bir mimpi (ru’yah1.      shalihah). Secara fenomenal situasi seperti itu pernah diceritakan oleh  Sulaiman an-Nabhani dalam bukunya “Af’al as-Shalawat”. Menurutnya, banyak redaksi shalawat yang diperolehnya melalui ta’lim dalam mimpi. Contoh lain, ada seorang ulama mimpi bertemu nabi dan nabi mengajarkan shalawat, dan shalawat ini dinamai “Shalawat Thib al-Qulub” Redaksinya adalah:
اللهم صل على سيدنا محمد طب القلوب ودوائها وعافية إلا بدان وصحتها ونور الأبصار وضياثها وعلى أله وصحبه وسلم
2.      Para Sufi memiliki keyakinan bahwa cara mendapatkan du’a adalah dengan riyadhah yang ditujukakn untuk memperkecil unsur nasut (tabi’at insaniyah) dan memperbesar unsur lahut (tabi’at ruhaniyah Ilahiyah).





Share this article :

0 komentar:

Populer Artikel

Translate

 


Copyright © 2011. News - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template