DASAR DAN SUMBER DU’A
A.
Dasar Hukum Berdu’a
1.
Dalil dari al-Qur`an
One.
Firman Allah Swt., dalam surat al-A’râf: 55-56
ادعوا ربّكم تضرّعا وخفية إنّه لايحبّ المعتدين. ولا تفسدوا فى
الأرض بعد اصلاحها وادعوه خوفا وطمعا. إنّ رحمت الله قريب من المحسنين (الاعراف:
55-57)
“Mohonlah (berdo’alah) kamu kepada tuhanmu dengan cara merendahkan diri
dan suara halus. Sesungguhnya Allah tiada menyukai orang-orang yang melampaui
batas; Dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi (masyarakat) setelah ia
baik; dan mohonlah (mendo’alah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan tamak
(sangat mengharapkan); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada
orang-orang yang ihsan (iman kepada Allah dan berbuat kebajikan). (Q.S.
7: 55)
b.
Firman Allah Swt. dalam surat al-Baqarah: 186.
واذا سألك عبادى عنّى فإنّى قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان
فليستجيبوالى وليؤمنوابي لعلّهم يرشدون (البقرة:186)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku
maka sesungguhnya Aku sangat dekat (kepada mereka), Aku perkenankan do’a-do’a orang-orang yang mendo’a apabila ia memohon (mendo`a) kepada-Ku. Oleh karena
itu, maka hendaklah mereka memenuhi (seruan) Ku dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (Q.S.2:186)
c. Firman Allah Swt. dalam Surat al-Mu`min: 60
وقال ربّكم ادعونى استجب لكم (المومن: 60)
“Dan Tuhan kalian berfirman: “Memohonlah (mendo’alah) kepadaku, maka akan aku perkenankan permohonan (do’a) mu itu.” (Q.S. 40: 60)
d. Firman Allah Swt. dalam Surat al-A’raf: 180
ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها (الأعراف: 180)
“Dan Allah mempunyai nama-nama yang sangat indah (Al Asma‘ul Husna), maka mohonlah kamu kepada-Nya dengan
(menyebut) nama-nama itu”. (Q.S. 7:180)
e.
Firman Allah Swt. dalam Surat al-Mu’min:
65
هو الحيّ لاإله إلاّ هو فادعوه مخلصين له
الدّين الحمد لله ربّ العالمين (المؤمن: 65)
“Tuhan adalah Dzat Yang hidup, tiada Tuhan melainkan Dia,
maka mendo’alah kepada-Nya. Segala puji itu kepunyaan Allah, Tuhan
yang memelihara seluruh alam”. (Q.S, 40:65)
2. Sunnah
Di antara sabda Rasulullah Saw. yang
bisa dijadikan sebagai landasan berdu’a
adalah hadits-hadits Rasulullah. berikut:
الدعاء هو العبادة (رواه الترمذي)
“Doa itu ‘ibadat”. (H.R. At
Turmudzy).
من فتح له باب الدعاء فتحت له أبواب الرحمة. وما سئل الله
تعالى شيئا أحبّ إليه من أن يسأل العافية, وإنّ الدعاء ينفع ممّا نزل وممّا لم
ينزل ولا يردّ القضاء إلاّ الدعاء (رواه
الترمذي)
“Barang siapa dibukakan
pintu du’a untuknya, berarti telah dibukakan pula baginya
berbagai pintu rahmat. Dan tiada dimohonkan kepada Allah, yang lebih
disukai-Nya selain dari pada dimohonkan ‘afiyah. Du’a itu memberikan manfa’at terhadap apa yang telah
diturunkan dan yang belum diturunkan. Dan tak ada yang dapat menangkis
ketetapan Tuhan, kecuali du’a. Oleh sebab itu,
hendaklah kamu sekalian berdu’a.” (H.R. At Turmudzy)
ما على الأرض مسلم يدعو الله تعالى بدعوة إلاّ اتاه إياه أو
صرف عنه من السوء مثلها مالم يدع ياثم أو قطيعة رحم (رواه الترمذي)
“Tiap Muslim di muka bumu yang memohon suatu permohonan
kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah, atau dijauhkan Allah
dari padanya suatu kejahatan, selama ia mendo’akan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau
memutuskan kasih sayang.” (H.R. At Turmuzy)
Apabila ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi Saw. yang telah
disebutkan di atas diperhatikan dengan seksama dan dengan segala keinsafan maka
nyatalah bagi kita, bahwa berdu’a merupakan salah satu perintah Allah Swt. kepada para
hamba-Nya. Dengan demikian, jelas sekali bahwa du’a adalah ‘ibadat.
M. Quraish
Shihab, ketika menafsirkan dua ayat
berikut:
قُلْ مَا
يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ
لِزَامًا
Katakanlah,
“Tuhanku tidak menghiraukan kamu seandainya tidak ada doamu” (Q.S. Al-Furqan
[25]: 77).
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ
الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdoalah
kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang angkuh
beribadah kepada-ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (QS Al-Mu’Mu’min
[40]:60).
Berpendapat bahwa
yang dimaksud “beribadah” dalam ayat di atas adalah berdu’a. Di sisi lain,
terdapat pula firman-Nya dalam QS Al-A’raf (7): 29, berdoalah kepada Allah
dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Kata “berdu’alah” di sini bermakna
“beribadahlah kepada-Nya”. Demikian ibadah dan doa, dua kata yang berbeda,
tetapi yang satu sering digunakan untuk makna yang lain. Itu wajar, karena doa
adalah mukhkh al-‘ibadah, yakni saripati ibadah, demikian sabda Nabi Saw.
sebagai diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi.
Lebih lanjut menurut M. Quraish Shihab bahwa wujud Tuhan
yang mutlak dan dirasakan oleh jiwa manusia serta keyakinan akan adanya
hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya, tidak boleh mengantar manusia untuk
mengabaikan doa. Sebab, keberlakuan hukum-hukum itu tidak mengakibatkan
terbebasnya Tuhan dari perbuatan dan kebijaksanaan-Nya. Apakah Anda menduga
bahwa Allah seperti pabrik yang memproduksi “jam” kemudian membiarkan berjalan
secara otomatis di tangan Anda? Jangan, jangan menduga demikian! Ada sunnatullah
(hukum-hukum Allah yang mengatur alam
raya) dan ada juga ‘inayatullah (pertolongan-Nya yang tidak kalah dari
Sunnah-Nya. Inayah-Nya itu ditunjukannya kepada mereka yang benar-benar berdoa
kepada-Nya.
Selain itu,
manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan mengharap. Dia selalu
membutuhkan sandaran, lebih-lebih pada saat cemas dan harapan itu menimpa
dirinya. Kenyataan sehari-hari membuktikan bahwa, bersandar kepada
makhluk–betapapun kuat dan kuasanya dia–sering kali tidak membuahkan hasil.
yang mampu memberi hasil hanyalah Tuhan semata. Allah Swt. berfirman, yang kamu
seru selain Allah tidak memiliki apa-apa walau setipis kulit ari sekalipun,
jika kamu meminta kepada mereka, mereka tidak mendengar permintaanmu dan
kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan (QS Fathir [35]:
13-14).
Orang yang
berdu’a hendaknya yakin bahwa Allah Swt. dekat dan memperkenankan permohonan
hamba-hamba-Nya yang tulus, sebagaimana firman-Nya, “Jika hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu (Hai Muhammad) tentang aku, (jawablah) sesungguhnya Aku
dekat. Aku perkenanka du’a orang yang berdu’a apabila dia berdu’a”. Maka,
hendaklah dia memperkenankan (panggilan)-Ku dan percaya kepada-Ku (QS
Al-Baqarah [2]: 186). Kalimat
“Jawablah” tidak terdapat dalam teks ayat di atas. Kata tersebut saya cantumkan
dalam terjemahan hanya untuk memudahkan pengertian kita. Tidak disebutkannya
kalimat tersebut dalam ayat di atas, walaupun Rasul Saw. diperintahkan untuk
menjawab pertanyaan mereka, mengandung banyak makna, kalimat ini sengaja
ditiadakan oleh Tuhan-tidak seperti jawaban-jawaban-Nya atas
pertanyaan-pertanyaan lain yang selalu dibarengi dengan kata “qul” (Jawablah).
Ulama Al-Quran mengatakan bahwa ditiadakannya (kalimat) “jawablah” di sini
untuk mengisyaratkan bahwa Anda dapat langsung berdoa kepada-Nya, tanpa
perantara.
Kalimat “orang
yang berdoa apabila dia berdoa” menunjukkan bahwa boleh jadi ada orang yang
bermohonan kepada-Nya, tetapi belum lagi dinilai-Nya berdoa. Ayat di atas juga
mengisyaratkan bahwa yang pertama dan utama dituntut dari setiap orang yang
berdoa adalah, “memperkenankan panggilan Allah (melaksanakan ajaran agama)”.
Karena itu pula, ada sebuah hadis Nabi Saw. yang menguraikan keadaan seseorang
yang menengadah ke langit sambil berseru, “Tuhanku, Tuhanku! (perkenankan
doaku)’, tetapi makanan yang dimakannya haram, pakaian yang dikenakannya haram,
maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” Selanjutnya, ayat
di atas memerintahkan agar orang yang berdoa niscaya percaya kepada-Nya. Ini
bukan saja dalam arti mengakui keesaan-Nya, tetapi juga percaya bahwa Dia akan
memilihkan yang terbaik untuk si pemohon. Dia tidak akan menyia-nyiakan doa
itu. Akan tetapi, boleh jadi Allah Swt. memperlakukan si pemohon seperti
seorang ayah kepada anaknya; sesekali memberi sesuai permintaannya, di kali
lain diberikannya sesuatu yang lain dan lebih baik dari yang diminatinya. Tidak
jarang pula Allah Swt. menolak permintaannya, tetapi memberikannya sesuatu yang
lebih baik di masa mendatang, kalau tidak di dunia, maka di akhirat. Demikian Al-Qur’an
menegaskan. Karena itu pula, Rasul Saw. bersabda, “Berdoalah kepada Allah
disertai dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memperkenankan (doamu).”
Inna Rabbi qaribun mujib (Sesungguhnya Tuhanku amat dekat, dan memperkenankan
[doa hamba-hamba-Nya]), demikian ucap Nabi Shaleh as. yang dibenarkan dan
diabadikan Allah Swt. dalam (QS Hud [11]: 61). Karena itu, kita tidak perlu
berteriak mengeraskan suara ketika berdoa. Berdu’alah kepada Tuhanmu dengan
berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas (QS Al-A’raf [7]: 55). Tidak mustahil termasuk
dalam pengertian
“melampaui batas kewajaran” adalah berkeras-keras dalam berzikir dan berdoa
sehingga mengganggu orang lain yang masih ditoleransi Allah Swt. untuk tidur
beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Bukankah ada orang yang karena
berbagai sebab yang dibenarkan agama, baru tidur setelah larut malam, atau
karena kesulitan akibat penyakit yang dideritanya? Dan berzikirlah/sebutlah
(nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan
tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai (QS Al-A’raf [7] :205).
Dalam surah yang
sama Allah mengingatkan dan memperingatkan bahwa Dia adalah Ni’ma al-mûjibun
(sebaik-baik yang memperkenankan) (QS Al-Shaffat [37]: 75).
Sebagai Al-Mujib, Allah Swt. adalah Dia yang
menanggapai permohonan hamba yang membutuhkan bantuan-Nya, menerima doa hamba
yang berdu’a dengan memperkenankan-Nya, dan memenuhi desakan orang yang
terdesak dengan memberi kecupan dari sisi-Nya. Bahkan, Dia menganugerahkan
sesuatu sebelum hamba yang mengharapkannya bermohon. Dan, jangan lupa, bahwa
Allah Swt. marah jika hamba-Nya enggan berdoa. Perhatikanlah ayat yang dicantumkan
pada awal uraian ini dan camkan juga
firman-Nya, Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk
merendahkan diri ketika datang siksaan kami kepada mereka, bahkan hati mereka
telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka sebagai indah apa
yang selalu mereka kerjakan (QS Al-An’am [6] : 43).
Permohonan adalah
permintaan yang ditujukan oleh orang yang sadar (berakal). Permohonan muncul
karena kesadaran akan adanya kebutuhan sehingga apa yang dibutuhkan itu
disampaikan kepada siapa yang diharapkan dapat memenuhinya. Cara untuk
menyampaikannya dapat berbentuk ucapan, isyarat, dan lain-lain, bahkan keadaan
yang kita alami pun dapat menunjukkan kebutuhan dan menjadi permohonan.
Sifat Allah Swt. sebagai Al-Mujib berfungsi saat permohonan
diajukan kepada Allah, atau ketika lahir kebutuhan makhluk-Nya. Ketulusan,
prasangka-baik kepada Allah, percaya penuh kepada-Nya, dan keyakinan akan
kebenaran janji-janji-Nya, adalah kunci yang tulus, setan meraih perkenan-Nya.
Jangkankan seorang Mukmin yang tulus, setan pun dikabulkan Tuhan doanya ketika
ia bermohon untuk dipanjangkan usianya hingga Hari Kebangkitan (baca QS
Al-A’raf [7]: 14-15). Memang, pengabulan du’a tidak selalu harus dikaitkan
dengan keimanan. “Hati-hatilah terhadap du’a orang yang
teraninya, walau dia kafir, karena tidak ada pembatas antara dia (du’anya) dengan Allah,” demikian
sabda Nabi Saw. Hanya, harus disadari bahwa pengabulan tersebut berkaitan
dengan kemaslahatan si permohonan. Karena itu, pengabulan doa dapat terjadi dengan
segera dan sesuai dengan yang dimohonkan, dan dapat juga ditunda atau diganti
dengan sesuatu yang lebih baik bagi si pemohon.
B.
Macam-Macam Sumber Du’a
Sumber Du’a di dalam Agama Islam adalah:
1.
Du’a yang bersumber dari al-Qur’an.
Du’a yang
bersumber dari al-Qur’an baik berupa du’a yang pernah diungkapkan oleh para
nabi ataupun redaksinya langsung dari al-Qur’an.
a. Du’a dalam
al-Qur’an yang redaksinya langsung diajarkan oleh Allah. Di antaranya adalah du’a untuk
mendu’akan kedua orang tua:
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (الإسراء: 24)
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS.
Al-Isrâ: 24)
b. Du’a Para Nabi
yang diberitakan kembali dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah du’a minta ampun
nabi Adam:
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ
مِنَ الْخَاسِرِينَ (الأعراف: 23)
"Ya Tuhan kami, kami telah
menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi
rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang
merugi". (QS.
Al-A’raf: 23)
c. Melaksanakan Perintah
Berdu’a Secara Eksplisit dalam bentuk perintah kemudian
diredaksikan dalam bentuk du’a oleh penerima perintah du’a.
Contoh redaksi perintah Allah dalam
al-Qur’an:
فَإِذَا قَرَأْتَ
الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم (الم\نحل: 98)
Apabila
kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari
syaitan yang terkutuk. (QS. Al-Nahl: 98)
Melaksanakan
perintah berdu’a dengan al-Asmâ
al-Husna
وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا (الأعراف: 180)
Hanya milik Allah asma-ul husna,
maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu (Qs. Al-A’raf:
18))
1.
Du’a yang bersumber dari pewarisan para nabi sepanjang
zaman yang sudah menyebar dan sudah menjadi ‘urf Sharfain.
Di
antaranya du’a yang bersumber dari pewarisan nabi Muhammad Saw., artinya semua
redaksi du’anya telah dicontohkan oleh
nabi Muhammad sendiri, dan
contoh-contoh du’a ini secara lengkap sudah dikodifikasi secara pertama
kalinya oleh Ibnu Sunni dalam karya monumentalnya “Amal al-Yaum wa
al-Lailah”, yang memuat du’a-du’a nabi Muhammad mulai tidur sampai tidur
lagi (siang malam). Pengkodifikasi lain adalah Imam Nawawi dalam kitab “al-Adzkar”.
Di antara contoh yang populer adalah bacaan tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan
hamdalallah. Kelima kalimat
du’a tersebut disebut afdhal al-kalâm.
1.
Du’a yang bersumber dari hasil ijtihad yang substansinya
diturunkakn dari rujukan al-Qur’an al-Sunnah Nabwiyah.
Substansi du’a diturunkan dari semangat
al-Qur’an dan atau semua tels-teks du’anya diturunkan dari semangat
al-Hadits/al-Sunnah berdasarkan ilham. Wujud teksnya biasanya berupa shalawat
dan du’a-du’a memohon keselamatan dan terhindar dari kemadharatan.
2.
Du’a yang bersumber dari ilham melalui kalangan muqarrabîn (hamba-hamba Allah yang dekat dengan-Nya)
atau para ahli Sufi yang dikenal dengan istilah metode al-barzakhi.
Du’a yang bersumber dari ta’lim antara ruh dengan ruh para nabi melalui ta’bir mimpi (ru’yah1.
shalihah). Secara fenomenal situasi seperti
itu pernah diceritakan oleh Sulaiman
an-Nabhani dalam bukunya “Af’al as-Shalawat”. Menurutnya, banyak redaksi
shalawat yang diperolehnya melalui ta’lim dalam mimpi. Contoh lain, ada
seorang ulama mimpi bertemu nabi dan nabi mengajarkan shalawat, dan shalawat
ini dinamai “Shalawat Thib al-Qulub” Redaksinya adalah:
اللهم صل على
سيدنا محمد طب القلوب ودوائها وعافية إلا بدان وصحتها ونور الأبصار وضياثها وعلى
أله وصحبه وسلم
2.
Para Sufi memiliki keyakinan bahwa cara mendapatkan du’a
adalah dengan riyadhah yang ditujukakn untuk memperkecil unsur nasut (tabi’at
insaniyah) dan memperbesar unsur lahut (tabi’at ruhaniyah Ilahiyah).

0 komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.