Home » » HAKIKAT DU’A DAN URGENSINYA

HAKIKAT DU’A DAN URGENSINYA

Written By RekaBaja on Sabtu, 31 Agustus 2013 | 02.25

HAKIKAT DUA DAN URGENSINYA

 

A. Pengertian Dua
Kata du’â (الدعاء) adalah bentuk mashdar dari fi’îl  دعا يدعو,  sedangkan menurut Ibn Hajar, kalimat duâ sebenarnya bentuk qashr dari kata al-da (الدعوى),  seperti dalam firman Allah Swt.: وآخر دعواهم . Tentang artinya, menurut Ibn Hajar dua memiliki beragam arti, antara lain: al-thalab (permintaan), dan berdua untuk mendapat sesuatu berarti dorongan untuk melaksanakan sesuatu tersebut.  Daawtu fulânan (دعوت فلانا) berarti aku telah meminta kepada seseorang, namun bisa pula berarti memohon pertolongan dari orang tersebut. Dua juga bisa berarti menghilangkan ketentuan, seperti firman Allah Swt.: ليس له دعوة في الدنيا ولا في الآخرة  (Tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat). Selain itu, dua juga dimutlakkan pada arti ibadah. Namun Ibn Hajar pun mengutif pendapat al-Ragib bahwa kata dua bisa diartikan sebagai nama,  seperti firman Allah Swt.:  لا تجعلوا دعاء الرسول بينكم كدعاء بعضكم بعضا (Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).
Abu al-Qasim Al-Qusyairy dalam syarah Al Asmâ` al Husnâ`,  sebagaimana dikutif  oleh Ibn Hajar  berpendapat bahwa dua memiliki banyak arti dan masing-masing arti mempunyai makna tertentu.
Pertama: Dengan makna ibadat. Seperti dalam firman Allah SWT:
ولا تدع من دون الله مالاينفعك ولا يضرّك (يونس: 106)
Dan janganlah kamu berdua, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepadamu dan tidak kuasa pula mendatangkan mudlarat kepadamu. (Q.S, 10:106 )
Yang dimaksud dengan berdua dalam ayat ini ialah beribadat (mengadakan penyembahan). Yakni janganlah kamu ibadat (menyembah) selain kepada Allah, yaitu sesuatu yang tidak kuasa memberikan manfaat kepadamu dan tidak kuasa pula mendatangkan madhârat kepadamu Kedua: Dengan makna istigâtsah (memohon bantuan dan pertolongan). Seperti dalam firman Allah SWT:
وادعوا شهداءكم (البقرة: 23)
Dan mendoalah kamu (mintalah bantuan) kepada orang-orang yang dapat memberimumu pertolongan dari teman-temanmu. (Q.S. 2: 23)
Yang dimaksud dengan dua dalam ayat di atas ialah istigâtsah (meminta bantuan, atau pertolongan)
Ketiga: Dengan makna permintaan atau permohonan seperti dalam firman Allah SWT:
ادعوا ني استجب لكم (المؤمن: 60)
Mohonlah (mintalah) kamu kepada-Ku, nisaya akan Aku perkenankan permohonan (permintaan) kamu itu. (Q.S. 48: 60)
Yang dimaksud dengan perkataan dua di dalam ayat ini ialah, memohon atau meminta Yakni, mohonlah kepada-Ku, maka niscaya akan Aku perkenankan permohonan kamu itu.
Keempat: Dengan makna percakapan. Seperti dalam firman Allah Swt.:
 Doa (percakapan) mereka didalamnya (syurga), ialah; Subhanaka Allahumma (Maha suci Engkau wahai Tuhan). (Q.S. 10:10).

Kelima: Dengan makna memanggil seperti dalam firman Allah Swt.:

يوم يدعوكم

Pada hari, dimana Ia mendoa (memanggil) kamu.
Yakni, pada suatu hari, dimana Ia (Tuhan) menyeru (memanggil) kamu.
Keenan: Dengan makna memuji. Seperti dalam firman Allah SWT.:
قل ادعوالله أودعواالرحمن (الإسراء: 110)
Katakanlah olehmu hai Muhammad: mendualah (pujilah) akan Allah atau mendoalah (pujilah), akan Ar Rahman (Maha banyak rahmatNya). (Q.S. 17: 110).
Yang dimaksud dengan dua di dalam ayat ini, ialah memuji. Yakni, pujilah oleh mu Allah atau pujilah olehmu Ar Rahman.
B. Faidah Berdua
Apabila diperhatikan dengan seksama, hadits-hadits  yang  menjadi bahan kajian penulis ini, ternyata memuat firman Allah Swt. 
دعواهم فيها سبحانك اللهمّ (يونس: 10)
ادعوني استجب لكم, إنّ الّذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنّم داخرين (المؤمن: 60)
Berdualah kamu kepada-Ku, pasti Aku akan memperkenankan permohonan kamu itu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah Aku  akan masuk neraka jahanam dengan  cara  yang  sangat  hina dina.  (Q.S. 40:60)
            Ayat di atas secara tegas menekankan pentingnya dua bagi seorang hamba, karena merupakan salah satu perintah Allah, dan sekaligus merupakan ancaman bagi orang-orang yang bersikap sombong, yang di antaranya adalah orang yang tidak mau berdua kepada-Nya. Dengan kata lain, orang yang banyak berdua akan mulia, sebaliknya orang yang tidak mau berdua akan menjadi hina dina. Hal itu sesuai pula dengan sabda Rasulullah Saw.

ليس شيئ اكرم على الله عزّ وجلّ من الدعاء فى الرخاء (راه الحاكم)


Tidak ada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari pada berdua kepadaNya, sedang kita dalam keadaan lapang. (H.R. Al-Hakim).
Dengan demikian, jelaslah bahwa dua memiliki kedudukan sangat penting dan faidah yang sangat
banyak. Berkaitan dengan masalah faidah dua ini,   Imam Al-Ghazali sebagaimana dikutif oleh Hasbi Ash-Shiddieqie berpandangan bahwa dua walaupun tidak dapat menolak qadla Tuhan, namun akan melahirkan sikap khudlu dan hajat kepada Allah. Apalagi bila diingat, bahwa menolak bala` dengan dua termasuk qadla Allah juga. Tegasnya, dua itu menjadi salah satu sebab bagi tertolaknya bencana (sebagai perisai untuk menangkis bencana) dan laksana air yang menjadi sebab keluarnya tumbuh-tumbuhan dari bumi. Bukankah Allah sendiri menyuruh hamba-Nya untuk mempergunakan senjata, dalam menolak musuh yang datang. Allah Swt. berfirman:
وليأخذوا حذرهم وأسلحتهم (النساء:102)
Maka hendaklah mereka siapkan pengawalan dan alat senjata mereka. (Q.S. 4:102).
Dengan kata lain, dua bisa diibaratkan sebagai senjata untuk menolak berbagai bencana dan sekaligus merupakan alat untuk mendatangkan kemaslahatan. Sebab, hanya Allah sajalah yang akan mampu menolak berbagai macam bencana dan mendatangkan kemaslahatan bagi hamba-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw.:
ينجيكم من اعدائكم ويدرّ لكم ارزاقكم
Tuhanlah yang melepaskan kamu dari bencana-bencana yang disebabkan oleh musuh-musuhmu dan dia pulalah yang mencurahkan rezeki kepada kamu sekalian. (H.R. Abu Yala).
Lebih lanjut tentang faedah-faedah dua tersebut Hasbi Ash-Shiddieqie menuturkan sebagai berikut:
1.         Menghadapkan muka kepada Allah dengan tadlarru.
2.         Mengajukan permohonan kepada Allah yang memiliki perbendaharaan yang tidak akan habis-habisannya.
3.         Memperoleh naungan rahmat Allah.
4.         Menunaikan kewajiban taat dan menjauhkan maksiat.
5.         Membendaharakan sesuatu yang diperlukan untuk masa susah dan sempit.
6.         Mememperoleh kesukaan Allah.
7.         Memperoleh hasil yang pasti. Karena tiap-tiap dua itu dipelihara dengan baik di sisi Allah. Maka adakalanya permohonan itu dipenuhi dengan cepat dan adakalanya dibendaharakan untuk hari akhir. 1.        Melindungi diri dari bala bencana.
2.         Menolak bencana atau meringankan tekanannya.
3.         Menjadi perisai guna menolak bala.
4.         Menolak tipu daya musuh, menghilangkan kegaduhan dan menghasilkan hajat serta memudahkan kesukaran.

C. Berdua Hanya kepada Allah
Telah disinggung di atas bahwa dua termasuk salah satu tugas agama yang sangat penting dan berkedudukan sangat mulia. Dua pun bisa dipandang sebagai pintu yang besar di antara pintu-pintu ibadat yang lain, dalam memperhambakan diri kepada Allah dan memperlihatkan ketundukkan jiwa kepada-Nya. Tidak mengherankan jika ada hadits yang menyatakan:

الدعاء مخ العبادة (رواه الترمذي)

Dua itu, adalah otaknya ibadat.  (HR. Turmudzi)
Terlepas dari kontroversi tentang kedudukan dan kualitas hadits di atas, dua dipandang sebagai otaknya ibadat karena ia merupakan bentuk ibadat yang jelas sekali memperlihatkan unsur perhambaan kepada Allah dan sangat berhajatnya hamba kepada-Nya, sehingga terwujudlah posisi bahwa Allah adalah tempat meminta dan tempat memohon, sedangkan si hamba adalah makhluk yang hina dina dan selalu dalam kekurangan[1].
Dengan demikian, sangatlah tidak layak jika  seorang hamba menghadapkan duanya  kepada selain Allah. Larangan ini jelas sekali dinyatakan dalam al-Qur`an:
ولاتدع من دون الله مالاينفعك ولا يضرّك فإن فعلت فإنّك اذا من الظالمين (يونس: 106)
Dan janganlah kamu mendua kepada selain Allah, yaitu sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepadamu dan tidak pula mendatangkan mudlarat; maka jika engkau perbuat juga, sesungguhnya engkau kalau begitu termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri. (Q.S. 10:106)
Ayat di atas jelas sekali merupakan larangan Allah Swt. kepada hamba-Nya agar tidak memohon kepada selain Allah, sebab hal itu tidak ada gunanya, bahkan sebaliknya jika seorang hamba berdua kepada selain Allah Swt.,  maka hamba tersebut  telah menganiaya dirinya sendiri.
Dalam ayat lain ditegaskan pula bagaimana besar dan tingginya kekuasan Allah Swt. dalam mengatur hamba-Nya, baik dalam memberikan kemadaratan maupun kemashlahatan bagi hamba-Nya:
وأن يمسسك الله بضرّ فلاكاشف له إلاّ هو وإن يردك بخير فلارادّ لفضله, يصيب به من يشاء من عباده, وهو الغفور الرحيم (يونس: 107)
Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudlaratan kepada engkau, maka pastilah tiada seseorangpun yang  sanggup menghilangkannya kecuali Dia sendiri, dan jika dicurahkan-Nya sesuatu kebijakan kepada engkau, maka tidak pula seseorangpun yang dapat menghambat kurnia yang dilimpahkan-Nya itu; Maka ditimpakan-Nya kemudlaratan dan kurnia itu kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dia, Mahapengampun lagi Mahapengasih. (Q.S.10: 107).
Sayang sekali, sebagian manusia telah lupa tentang kedudukan dua sebagai otak ibadat. Oleh karena itu, tidaklah mengherangkan apabila banyak di antara hamba Allah Swt. yang telah sesat, yakni menghadapkan dua kepada selain Allah untuk memenuhi hajat mereka. Padahal dalam Islam sangatlah jelas bahwa seorang hamba dibolehkan untuk meminta tolong kepada seseorang (selain Allah) hanyalah dalam kapasitas ikhtiar, yakni sesuatu yang tidak sanggup untuk dilakukan oleh hamba tersebut. Misalnya, meminta pertolongan dokter untuk mengobati sesuatu penyakit. Namun demikian, harus tetap berkeyakinan bahwa penyembuh sebenarnya (secara hakikat) hanyalah Allah Swt. Oleh karena itu, disamping ikhtiar tersebut, hendaklah seorang hamba berdoa kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya, yakni kepada sumber penolong. Dan dua itu sendiri merupakan salahsatu bagian dari bentuk ikhtiar.
Pada sisi lain sesungguhnya Allah Swt. sangat senang apabila diminta, sebab Dia Maha Kaya, dan Kekayaan-Nya tidak akan pernah habis walaupun terus menerus diminta. Oleh karena itu, jika seorang hamba terus-menerus berdua dan tidak pernah merasa bosan, maka Allah Swt. pun dipastikan akan memper-kenankannya, dan Dia sangat senang apabila diminta terus-menerus.  Nabi Muhammad Saw. bersada:
سلوا الله من فضله فإنّ الله يحبّ أن يسأل (رواه التردذى وأبو نعيم)
Mintalah kalian kepada Allah dari anugerah-Nya. Sesungguh-Nya Allah senang (jika) senantiasa diminta.  (HR. Turmudzi dan Abu Nuaim)
Sebaliknya,  Allah swt. membenci orang yang tidak suka berdua, sebab orang yang tidak mau berdo`a kepada Allah berarti tidak mau melaksanakan perintah Allah Swt. Mungkin saja orang tersebut telah merasa mampu dan  kaya atas segala yang dimilikinya, sehingga Allah Swt. pun murka kepadanya. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Saw. Muhammad Saw.:
من لم يسأل الله يغضب عليه (رواه الترمذي)
Siapa saja yang  tidak berdua keapda Allah, maka Allah murka kepadanya.  (HR. Turmudzi)
 

D. Dua dan Ikhtiar
Dua bisa dipandang sebagai salahsatu sarana untuk mencapai suatu tujuan atau.  Tentunya, setiap orang memiliki beragam keinginan dalam hidupnya, bahkan terkadang menginginkan sesuatu yang mustahil untuk bisa mencapainya. Seorang hamba tentu saja tidak boleh memohon sesuatu yang jauh berada dalam jangkauannya dan sangat mustahil untuk bisa dicapai berdasarkan akal yang sehat. 
Namun demikian, suatu keinginan yang mungkin bisa dicapaikan pun tidak boleh hanya mengandalkan dua saja, tetapi ia pun harus berusaha untuk mencari illat atau sebab yang akan meluluskan keinginannnya tersebut. Sebab, dengan  tidak berusaha untuk mewujudkan sebab-sebab dan illat-illat itu, samalah halnya dengan seseorang yang hendak sampai ke suatu tujuan tetapi tidak berusaha melangkahkan kaki melalui jalan yang harus dilaluinya.
Dengan kata lain, seorang hamba harus memiliki persepsi bahwa dua merupakan ikhtiar spiritual dan penyemangat untuk mencapai tujuannya atau apa yang dicita-citakannya. Berbarengan dengan dua, seorang hamba harus berusaha sekuat tenaga untuk mencari illat atau penyebab yang akan menghantarkannya untuk mencapai apa yang diinginkannya, sebab Allah Swt. tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang harus merubah sasibnya, sebagaiman dinyatakan dalam al-Qur`an:
إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم (الرعد: 11)
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Al-Radu: 11).
Hemat penulis, ayat tersebut jelas sekali menyuruh manusia untuk berikhtiar atau mencari berbagai penyebab yang akan menghantar pada suatu perubahan seseorang, sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dalam konteks ini, dua bisa dipandang sebagai kepercayaan teguh dan harapan yang sangat dalam, bahwa Allah akan menjauhkan segala halangan-halangan yang akan menghalangi untuk tercapainya suatu maksud. Oleh karena itu, seorang hamba harus memiliki keyakinan  yang teguh bahwa Allah Swt.  akan memberikan petunjuk-petunjuk tentang sebab-sebab atau illat, baik yang nyata maupun yang tersembunyi untuk  untuk kelancaran apa yang dinginkannya. Dalam hadits Qudsi dinyatakan:
إنّ الله عزوجل يقول: أنا عند ظنّ عبدي بي وأنا معه اذا دعانى (رواه البخاري ومسلم)
            Sesungguhnya Allah Azza Wajalla berfirman (dalam hadits Qudsi): Aku akan mengikuti sangkaan-sangkaan hamba-Ku. Dan Aku akan selalu menyertainya apabila ia berdo`a kepada-Ku.  (HR. Bukhari dan Muslim)
Tentunya, usaha seorang hamba dalam batas-batas berkaitan dengan sebab-sebab dan illat-illat masih dapat diusahakan dan memang mampu untuk mengusahakannya. Namun, ketika seorang hamba telah lemah dan tidak sanggup lagi mengusahakannya,  tetap ia berdua  dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Allah. E. Dua dan Wasilah
Diatas telah disinggung bahwa Imam Turmudzi  dan Imam al-Hakim sebagaimana dikutf oleh al-Manni  telah meriwayatkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa umat zaman. dahulu senantiasa menggantungkan dua mereka kepada Nabi, kemudian Nabi tersebut yang berdua kepada Allah Swt., sementara umat sekarang diberi keistimewaan untuk berdua langsung  kepada Allah. Hadits tersebut berderajat  Hasan Shahih  menurut versi Imam Turmudzi, sedangkan menurut Imam Hakim berderajat Shahih.
Hadits tersebut bisa dijadikan salah satu acuan bahwa seorang hamba hendaklah berdua secara langsung kepada Allah Swt. dan tidak dibolehkan memakai wasielah, yakni memakai perantaraan,  apalagi jika memakai perantara orang yang sudah meninggal atau benda. Memang benar, menurut pendapat sebagian ulama dibolehkan untuk menggunakan wasilah dengan orang yang masih hidup atau dengan amal shaleh. Namun demikian, menurut pendapat Hasbi Ashiddieqie apabila diperhatikan dengan seksama, ternyata para Nabi, para Rasul-Rasul dan para Shahabat senantiasa berdua secara langsung kepada Allah Swt., tanpa memakai sesuatu perantara atau wasithah (orang ketiga yang mengetahui urusan). Oleh karena itu, hendaklah seorang hamba hendaklah menjauhi susunan lafazh-lafazh dua, seperti:: Dengan berkah krahmat si Anu, .; Dengan berkah karamat Kabah-Allah, ; dengan berkah si Anu yang berkubur di kuburan, , dan lain-lain sebagainya.
Cara-cara seperti itu tentunya tidaklah sesuai dengan dua-dua yang telah diajarkan oleh Nabi untuk dijadikan wirid, dan terdapat dalam kitab-kitab yang mutabar. Sayang sekali, tidak sedikit dua-dua yang telah disusun oleh sekelompok orang (jemaah), baik berupa seruan, permohonan, permintaan untuk menolak sesuatu bencana yang dihadapkan kepada  Rasul atau kepada seseorang yang dipandang keramat. Tidak mengherankan, jika di dalam masyarakat  berkembang berbagai macam buku dua dan tawassul, seperti: Tawasulat Ahmadiyah, Barhamiyah, Qadariyah dan lain-lain. Kitab-kitab tersebut, menurut tinjauan ulama-ulama tauhied yang kenamaan, tidak boleh diamalkan, karena mengandung susunan kata-kata yang membawa kepada kekafiran. Tentu saja, ummat Islam wajib menjauhinya, sebab dikhawatirkan dua seperti itu akan membawa seseorang kepada kekufuran.
Wasilah dalam berdua ini termasuk problematika berdua yang kontroversial di kalangan para fakar dua.

F. Fungsi Du’a
Du’a yang dilakukan oleh seorang hamba mengandung beberapa fungsi dalam hidup dan kehidupannya. Diantara fungsi du’a tersebut adalah:
1.       Du’a sebagai pencerminan kehambaan makhluk di hadapan Khâlik
Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ (رواه الترمذي)
"Siapa Saja tidak memohon kepada Allah Swt., maka Dia murka kepadanya” (HR. Turmudzi)
2.       Du’a merupakan salahsatu bentuk Ibadah, karena merupakan perintah dari Allah Swt..
Dalam Salah satu haditsnya Rasulullah Saw. bersabda:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ (وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ) قَالَ الدُّعَاءُ هُوَ
الْعِبَادَةُ وَقَرَأَ ( وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ) إِلَى قَوْلِهِ ( دَاخِرِينَ ) قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ  (رواه الترمذي)

Diterima dari Nu’mân bin Basyîr dari Nabi Muhammad Saw. berkaitan dengan firman Allah Swt.: (وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ), beliau bersabda: “Du’a adalah ibadah”, kemudian beliau membaca ayat: (وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ) sampai firman-Nya (دَاخِرِينَ). Menurut Abu Isâ: “Derajat Hadits tersebut  adalah Hasan Shahih

1.       Du’a sebagai proses solusi problem kehidupan baik spiritual maupun material
Dalam riwayat Anas r.a  Rasulullah Saw. bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ  (رواه البخاري)
Hendaklah setiap orang dan kalain memohon segala kebutuhan kepada Tuhan-Nya. sampai ia memohon kepad Tuhan tatkala tali sandalnya putus”
2       Du’a sebagai pengendali pusat gerak spiritual yang merupakan refleksi lahir  melalui dzikir dan Do’a. 
1.       Dua sebagai bagian dari qadar yang telah ditetapkan bagi seseorang

Tsauban pernah meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw.:
 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ (ابن ماجة)
Rasulullah Saw. bersabda: Umur seseorang tiadak bertambah kecuali dengan melakukan kebaikan, Qadar yang akan menimpa seseorang tidak bisa ditolak keculai dengan dua, dan kebaikan akan diharamkan kepada seseorang karena dosa yang dilakukannya.










Share this article :

Populer Artikel

Translate

 


Copyright © 2011. News - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template